ELEGI ITU BANYAK SEKALI PENGERTIANNYA , dan rangkaian kata-katapun sebenarnya tiada mampu memberikan pengertian ataupun mendefinisikan sebuah elegi KARENA HANYA ELEGI SENDIRI YANG MAMPU MEMBERI PENGERTIAN ataupun mendefinisikan atas dirinya.
Namun, akan mencoba memberikan gambaran sedikit yang mungkin bisa
menjadikan pembaca mengetahui atau malah membuat pembaca semakin bingung
dengan yang namanya elegi. Tapi, ,khusus bagi pembaca yang kebingungan
di ucapkan..”selamat…!!”, anda kebingungan berarti anda berfikir.
Elegi adalah bahasa kalbu. Dengan Elegi kita bisa
mengungkapkan isi hati kita pada sebuah tulisan yang susunannya terserah
kita yang membuat, hingga tulisan kita tiada terpatok oleh pagar-pagar
peraturan penulisan. Dari situ segala yang di hati yang ingin kita
curahkan terasa lebih ringan karena bisa kita curahkan pada
tulisan-tulisan elegi yang meski terkadang menurut orang lain terasa
aneh dan tiada bermakna. Namun, bagi sang pembuat elegi itulah
sebenar-benarnya tulisan yang sungguh bermakna yaitu tulisan dari hati
yang begitu menyentuh jiwa.
Elegi adalah pemberontakan. Benar adanya elegi kita
sebut dengan pemberontakan. Itulah pemberontakan dengan menggunakan
perca kata-kata. Elegi selalu memberontak pada peraturan-peraturan
penulisan. Elegi sangat egois hingga menciptakan sebuah aturan tanpa
aturan. Dia berkeliaran pada sebuah wilayah yang luas meski wilayahnya
tiada kita ketahui dengan pandangan mata kita. Dia mengklaim wilayah
pemikiran seseorang yang sedang berfikir hingga ikut dan patuh pada
perintah-perintahnya. Sungguh penakhluk yang sangat hebat elegi itu.
Elegi adalah seni. Itu tiada dapat dipungkiri jika kita
lihat disetiap kata hingga setiap kalimat dalam elegi mengandung unsur
seni yang tiada ternilai hanya dengan bilangan-bilangan coretan manusia.
Setiap kata, setiap kalimat begitu bermakna bagi si pembuat maupun bagi
si pembaca yang mau meresapai dan merenungkannya. Bagi yang membuat
bisa dijadikan suatu pajangan coretan hidup yang merupakan mahakarya
murni yang berasal dari jeritan hati yang terdalam. Dan bagi si pembaca,
Elegi bisa menimbulkan daya pikat seni dari untaian kata-kata yang
terukir di setiap kalimat-kalimat yang menyusun elegi tersebut. Tidak
hanya itu, bagi pembaca, elegi juga bisa menimbulkan reaksi seni yang
timbul secara tiba-tiba dari jiwa maupun hatinya, hingga si pembaca
serasa berada pada dunia yang lain yang di dunia itu sungguh beda dengan
dunia yang ia ketahui selama ini. Yang jelas di dunia elegi orang
diberi kemerdekaan yang sungguh merdeka hingga meski terbatas orang itu
tiada mengetahui batasnya.
Elegi adalah Pesan dan Nasihat. Di setiap karya-karya
berbentuk elegi pasti ada amanat yang ingin disampaikan oleh sang
penulis pada setiap pembaca yang mau meresapai dan merenungkan. Pesan
maupun nasihat yang penulis ingin sampaikan biasanya tiada tertulis
secara gamblang hingga orang mudah untuk memahaminya. Namun, pesan
maupun nasihat tersebut biasa penulis sampaikan secara tersirat dari
setiap kata hingga kalimat yang telah penulis rangkai menjadi tarian
elegi.
Elegi adalah kritik. Jika kita resapi dan kita
renungkan kita akan mengetahui betapa pedas dan kerasnya sebuah kritik
yang terkandung dari sebuah elegi. Tapi, elegi mampu menampilkan kritik
yang begitu pedas maupun keras itu dengan nuansa seni yang terluap
dengan bahasa-bahasa sopan, maupun bahasa yang menggelitik perasaan
karena biasa terlihat aneh dan sulit dimengerti. Karena memang pada
dasarnya yang mengetahui secara utuh akan maksud dan arti dari sebuah
elegi tidak lain hanyalah pembuatnya.
Elegi adalah rayuan. Setiap elegi adalah sebuah hasutan
romantis yang biasa disebut dengan “rayuan”. Hingga karena indah,
lembut hingga kocaknya bahasa yang terurai dalam elegi, seseorang
biasanya tidak sadar bahwa dirinya telah mengikuti dan takhluk pada
elegi itu.
Elegi adalah elegi. Saya teringat salah satu bait dalam
puisi salah seorang tokoh idola saya, Jallaludin Rumi. Garis besarnya
dalam bait tersebut dijelaskan,” tiada yang mampu mendefinisikan cinta
melainkan cinta itu sendiri seperti matahari yang tiada mampu seorangpun
untuk mendefinisikannya karena hanya mataharilah yang mampu
mendefinisikan matahari”. Sayapun meresapi arti dari helai
kalimat-kalimat itu dan menurutku begitu pula sebuah elegi, yaitu elegi
adalah elegi…biarlah dia bebas mendefinisikan dirinya…