Tidak semua yang Saya tulis adalah Saya, tidak semua yang Kamu baca adalah Kamu
Tampilkan postingan dengan label Bidan Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bidan Story. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2013

BIDAN PALESTINA: MASIH PRAKTIK DI USIA 110 TAHUN


 

Karat telah menggerogoti sebagian besar pintu logam bagian luar satu rumah tua di Jalur Gaza. Namun, semangat penghuninya tak pernah berkarat, walau terus digerogoti usia. Elmeya Hamouda, nama pemilik rumah itu, masih sigap menolong perempuan hamil di Gaza yang menderita akibat embargo dan minimnya tenaga kesehatan, melahirkan bayi dengan selamat. Usianya kini 110 tahun. 

Elmeya telah menempuh asam garam kehidupan. Ketika dia berusia 15 tahun, dia menikah dengan Jawar, seorang kerabat dekatnya. Mereka hidup bahagia sampai Jawar meninggal dunia pada beberapa dasawarsa lalu. "Keadaan jadi lebih berat dan makin berat setelah kematiannya," kata Elmeya dalam percakapan dengan wartawan Xinhua. Ia lalu meremas mukanya.

Untuk melanjutkan hidup "terhormat", dia mempelajari perawatan dan kebidanan dari seorang perempuan lebih tua "yang berpengalaman".

Keadaan membaik di wilayah pendudukan yang jadi tempat kerusuhan, sehingga Elmeya bisa membantu puluhan perempuan melahirkan pada masa perang. Kegiatannya membuat dia terkenal di lingkungan tempat tinggalnya.

Elmeya tak pernah mengenyam pendidikan resmi, tapi dia terampil dalam menjalankan pekerjaannya. Sampai hari ini, sebagian orang akan meminta bantuannya ketika istri mereka akan melahirkan.

Pertama kali ia membuka praktik kebidanan ialah pada masa kekuasaan Usmaniyah (Ottoman Turki) di Jalur Gaza, yang berakhir sebelum 1920, ia mengenang. Dia akhirnya memperoleh izin ketika Jalur Gaza berada di bawah kekuasaan Mesir pada 1950-an.

"Saya tak pernah dibayar untuk pekerjaan ini," katanya. Tapi sebagian orang biasa memberi dia hadiah atas bantuannya. "Saya menggunakan cap khusus untuk mengesahkan sertifikat kelahiran bayi yang baru dilahirkan. Pekerjaan ini memberi saya kegembiraan dan kebahagiaan," katanya.

Saat ia bertambah tua, Elmeya menghadapi kesulitan untuk menjalankan pekerjaannya secara mulus, jadi dia meminta putri-putrinya belajar dan melanjutkan praktiknya. Mereka, kecuali satu orang, gagal mewujudkan impiannya melalui penolakan mereka.

Bidan telah hilang dari sebagian besar wilayah Jalur Gaza sejak lama. Ada banyak pusat kehamilan di daerah kantung pantai itu, yang menyediakan untuk perempuan hamil bantuan medis yang diperlukan dan kesadaran. Namun, di sebagian daerah pedesaan di sana, Elmeya dan para pesaingnya masih dapat memperoleh pekerjaan.

Perempuan yang berusia 110 tahun tersebut memiliki ingatan dan kesehatan yang bagus, kendati kerut-merut secara tragis memenuhi sebagian besar wajah mungilnya.

Di rumahnya yang kecil, ia menyimpan penggiling gandum yang sudah berumur tua, perapian batu-bara dan radio kuno yang menghiburnya selama masa lengang. Di peralatan rumah tangga itu, rancangan era zaman Usmaniyah tercermin.

Elmeya membeli peti mati buat dirinya. Ia tak takut pada ajal tapi ia mempersiapkan diri dan menunggunya.

sumber
http://www.republika.co.id



Related Posts by Categories

BIDAN Story



KEMATIAN DI TANGAN BIDAN


Kegagalan dalam proses melahirkan memang bisa terjadi pada wanita mana saja. Bahkan yang paling buruk, si bayi meninggal juga bisa saja terjadi. Namun, yang dialami oleh Nunuk Rahayu (39) ini memang kelewat tragis. Ia melahirkan secara sungsang. Bidan yang menangani, diduga melakukan kesalahan penanganan. Akibatnya, si bayi lahir dengan kondisi kepala masih tertinggal di rahim!


Lakon yang demikian tragis itu diceritakan Wiji Muhaimin (40), suami Nunuk. Sore itu Selasa (8/8), Nunuk mengeluh perutnya sakit sebagai tanda akan melahirkan. Ibu dua anak ini berharap kelahiran anak ketiganya akan semakin melengkapi kebahagiaan rumah tangganya. Sang suami, segera berkemas-kemas dan mengantarkan istrinya ke bidan Tutik Handayani, tak jauh dari rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Batu, Malang, Jawa Timur.

Sesampai di tempat bersalin, sekitar jam 15.00, Nunuk langsung diperiksa bidan untuk mengetahui keadaan kesehatan si bayi. "Menurut Bu Han (panggilan Tutik Handayani), kondisi anak saya dalam keadaan sehat. Saya disuruh keluar karena persalinan akan dimulai," kata Wiji saat ditemui NOVA, Jumat (11/8).

Meski menunggui kelahiran anak ketiga, Wiji tetap saja diliputi ketegangan. Apalagi, persalinan berlangsung cukup lama. "Setiap pembantu Bu Han keluar ruang persalinan, saya selalu bertanya apakah anak saya sudah lahir. Jawabannya selalu 'belum'. Katanya, bayi saya susah keluar. Istri saya mesti diberi suntikan obat perangsang sampai dua kali agar jabang bayi segera keluar," papar Wiji.

BIDAN MAKIN PANIK
Wiji sempat pulang sebentar untuk menjalankan salat magrib. Usai salat, lelaki berkumis lebat ini kembali ke bidan. Baru saja memasuki klinik bersalin, bidan Han ke luar dari ruang persalinan dengan tergopoh-gopoh. Bidan yang sudah praktik sejak tahun 1972 itu berteriak minta tolong kepadanya. "Pak, tolong bantu saya!" teriaknya kepada Wiji.

Lelaki yang sehari-hari berjualan es dan mainan anak-anak di sekolah-sekolah ini, tak mengerti maksud bidan. Wiji mengikuti bidan Han masuk ruang persalinan. Mata Wiji langsung terbelalak begitu melihat pemandangan yang begitu mencekam. Si jabang bayi memang sudah keluar, namun kepala bayi masih berada di dalam rahim.

Di tengah kepanikan, bidan memintanya untuk menahan tubuh si bayi sedang kedua perawat bertugas menekan perut ke bawah untuk membantu mengeluarkan kepala bayi. Kala itu, kondisi istri Wiji antara sadar dan tidak. "Ia hanya bisa merinih kesakitan saja," imbuh Wiji.

Selanjutnya, bidan Tutik meminta Wiji menarik tubuh bayi agar segera keluar dari rahim. Namun, Wiji enggan melakukannya. Ia hanya menahan tubuh bayi agar tak menggantung. "Saya tak tega menarik tubuh anak saya. Apa jadinya kalau saya tarik kemudian sampai lepas. Yang saya lakukan hanya terus istigfar," tutur Wiji sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Kala itu, Wiji sudah tak sanggup membendung air matanya. Ia paham, anak bungsunya sudah tak bernyawa lagi. Ia tahu karena tubuh si bayi sudah lemas dan tak ada gerakan sama sekali. Sampai 15 menit kemudian, tetap saja kepala bayi belum berhasil dikeluarkan. Wiji pun tak tega melihat penderitaan istrinya. "Saya berikan tubuh bayi saya kepada Bu Han."

Lalu, Wiji sambil berurai air mata mendekati istrinya yang tengah kesakitan dan berjuang antara hidup dan mati. Sejurus kemudian dia mendengar si bidan semakin panik. Bahkan, si bidan sempat mengeluh, "Aduh yok opo iki". (aduh bagaimana ini). "Saya sudah tak berani melihat bagaimana bidan menangani anak saya. Saya hanya menatap wajah istri saya," ujar Wiji.
Sebuah cerita yang mengharukan, yang pastinya kejadian seperti ini banyak ditemukan di berbagai daerah.

Seharusnya kejadian ini tidak akan terjadi bila Bidan dapat mendeteksi komplikasi secara dini dan melakukan upaya kolaborasi dan rujukan yang tepat. Kisah ini harus memacu kita sebagai bidan untuk melakukan pelayanan kebidanan secara tepat dan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan. Jangan sampai bidan yang semakin mempertajam angka kematian Ibu dan Bayi..

Kisah :http://nostalgia.tabloidnova.com


Related Posts by Categories

BIDAN Story


BIDAN "SRIKANDI" YANG PERKASA



Jakarta, Bidan adalah sahabat, pemberdaya dan pelayan perempuan yang mungkin sering dianggap remeh. Padahal bidan adalah tonggak kesehatan masyarakat khususnya yang tinggal di daerah terpencil.


Srikandi Award memberi anugerah pada 10 bidan teladan untuk kerja keras, bakti dan pengabdiannya pada masyarakat. Dalam rangka memperingati hari ibu, Ikatan Bidan Indonesia bekerja sama dengan PT Sari Husada menganugerahkan Srikandi Award bagi 10 bidan terbaik Indonesia, di Balai Kartini Jakarta, Rabu malam (23/12/2009).

Srikandi Award merupakan apresiasi bagi para bidan yang menjalankan program pembangunan kesehatan yang dijalankan oleh bidan yang melibatkan tokoh dan anggota masyarakat di tempat bidan tersebut berdomisili.

Tingginya angka kematian ibu dan bayi adalah faktor yang mendasari pemberian penghargaan bagi bidan teladan ini, terutama bidan yang melayani masyarakat di daerah terpencil dan tidak terjangkau tenaga kesehatan lain.

Data survei demografi Indonesi tahun 2005 menunjukkan terdapat 228 kematian ibu dan 34 bayi meninggal dalam 1000 kelahiran hidup. Melalui program pos bhakti bidan, diharapkan angka kematian tersebut bisa menurun dan bisa mencapai target MDG (Millenium Development Goals) di tahun 2015, khususnya pada MDG poin 4 dan 5, yaitu menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan maternal.

Dalam program pos bhakti bidan tersebut, panitia menyeleksi 145 bidan dari 500 proposal yang diajukan. Setelah melalui tahap sosialisasi, mentoring, monitoring serta evaluasi, akhirnya terpilihlah 10 bidan terbaik dalam menjalankan programnya sehingga bisa dijadikan model dan inspirasi bagi upaya pembangunan kesehatan yang dijalankan masyarakat.

Sepuluh bidan terbaik itu terdiri dari dua kategori yaitu kategori MDG 4 dan MDG 5.
Untuk bidan terbaik kategori MDG 4 adalah:
Juara pertama: Siti Aminah dari Kalimantan Timur
Juara kedua: Ristin Setyaningsih dari kabupaten Pati
Juara ketiga: Yuninda dari Semarang
Juara keempat: Syarifah Ningsih dari Kalimantan Barat
Juara kelima: Martha dari Jepara.

Sementara itu untuk bidan-bidan berprestasi kategori MDG 5 adalah:
Juara pertama: Husniar dari Padang
Juara kedua: Listiyani Ritawati dari Gunung Kidul
Juara ketiga: Bimoarti dari kabupaten Demak
Juara keempat: Nurhayati Wantono dari kabupaten Grobogan
Juara kelima: Erni Supriyani dari Bandung.

"Bidan adalah agent of change. Saya kagum sekaligus iri dengan mereka. Mereka itu perempuan yang dalam kultur Indonesia sering dianggap makhluk lemah, tapi ternyata mereka bisa jadi tokoh yang disegani dan sangat berjasa untuk masyarakat. Yang membuat saya kagum juga adalah suami-suami mereka yang sangat mendukung profesinya," kata Dr Kartono Muhamad, mantan ketua IDI yang merupakan salah satu juri dalam acara penghargaan Srikandi Award.


http://health.detik.com/read/2009/12/24/112801/1265614/763/bidan-bidan-srikandi-yang-perkasa




Related Posts by Categories

BIDAN Story


PENGALAMAN VT (VAGINAL TOUCHER



Memasukkan tangan ke dalam jalan lahir ibu bersalin untuk memantau perkembangan proses persalinan atau lazim disebut VT (vaginal toucher atau vaginal tousse atau periksa dalam dan sejenisnya) bukanlah sesuatu yang mudah. Selain perlu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, tetapi juga butuh perasaan...

Awal saya melakukan VT pada saat duduk di semester 4 di sebuah akademi kebidanan. Pada waktu itu saya dinas di rumah sakit pemerintah, Itu juga curi-curi kesempatan maklum perbandingan mahasiswa kebidanan dengan pasien tidak seimbang, lebih banyak mahasiswanya. Sementara VT tidak bisa dilakukan sesering mungkin, karena dapat menjadi pencetus terjadinya infeksi.

Selanjutnya beberapa kali saya melakukan VT baik di klinik atau di rumah sakit, meski tanpa bimbingan hanya mencoba-coba hingga tamat dan menyandang gelar bidan. Saya belum bisa membayangkan sebenarnya VT itu bagian apanya yang diperiksa. Meski dosen-dosen saya mengatakan cari portio bila ingin mengetahui pembukaan serviks, bahkan portio di gambarkan sebagai mulut, “maaf” pantat ayam, dan ilustrasi yang lain. Tapi tetap saja saya tidak bisa mengaplikasikannya ke pasien. Yang saya rasakan hanya, tangan saya panas, terdapat bidang yang sangat luas, lunak dan tentu saja bau lendir yang khas....

Hingga akhirnya saya dihadapkan pada pasien bersalin saya yang pertama. Secepatnya saya melakukan VT untuk memantau perkembangan persalinan. Tentu setelah melakukan pengkajian dan pemeriksaan palpasi terlebih dahulu, saya periksa ternyata pembukaan sudah lengkap, menurut saya. Persiapan persalinan sudah lengkap, tapi 3 jam kemudian bayi tidak kunjung lahir, dan pasien akhirnya saya rujuk..Baru saya rujuk 20 menit, bayi lahir.
Pasien ke dua datang, saat saya VT pembukaan sudah lengkap. Setelah itu pasien tidak saya ijinkan pulang, akhirnya pasien menginap di rumah saya. Tapi 12 jam di rumah saya tidak ada tanda-tanda pasien akan bersalin. Akhirnya si ibu pulang ke rumahnya, 1 minggu kemudian bayi lahir di bidan yang lain...

Ternyata keterampilan VT itu sangat penting, berbekal pengalaman kegagalan itu...saya akhirnya memutuskan untuk magang di klinik bersalin sebelum terjun menjadi bidan profesional.....dan akhirnya saya tahu bahwa kegagalan persalinan pada ke dua pasien saya berkat kesalahan diagnosa yang saya lakukan. Mudah-mudahan pengalaman ini dapat mengilhami bidan-bidan muda..


sumber
febrina ok

AKHIR TRAGIS PENGABDIAN BIDAN DESA



Bidan desa yang kesohor itu ditemukan tewas dengan beberapa luka tusukan. Pelakunya ternyata tetangga korban.

Rabu tengah hari, Budi Prasetyo (54) yang berdinas di Pemda Kabupaten Bojonegoro pulang ke rumahnya di Desa Balenrejo, Kec. Balen, Bonjonegoro (Jatim). Seperti kebiasaannya, ia mengarahkan sepeda motornya masuk melalui pintu belakang. Namun, pintu belakang terkunci. Ia juga tak mendapati istrinya, Hj. Risjati (54). Lalu, Budi masuk lewat pintu depan. Namun, ia juga tak menjumpai istrinya yang sehari-hari menjadi bidan. Ia bergegas menuju ruang praktik. Begitu pintu terbuka, Budi langsung histeris melihat pemandangan di depannya. Sang istri terlentang tak bernyawa dengan kondisi bersimbah darah. "Seketika itu saya menjerit. Setelah itu saya tak ingat apa-apa lagi,” cerita Budi mengawali kisahnya, di rumahnya di Desa Balenrejo.

Budi yang masih tampak syok sama sekali tak menduga istrinya tewas setragis itu. “Sama sekali tak ada firasat apa pun sebelum kejadian itu,” kata bapak tiga anak yang sehari-hari bertugas di Dinas Infomasi dan Komunikasi (Infokom) ini. Setelah pemakaman istrinya, Budi dan keluarganya diliputi tanda tanya besar. Siapa pelaku pembunuhan bidan desa yang sudah 30 tahun mengabdi ini? "Kalau perampokan jelas tidak mungkin. Soalnya tidak ada barang-barang yang hilang," ungkap Budi.

FIGUR ISTRI IDEAL
Teka-teki kematian Risjati terungkap. Pelakunya adalah tiga pemuda tetangga korban. Yaitu Rochmad sebagai otak, Hendra sang eksekutor, dan Suwidji yang turut membantu pembunuhan itu. Rochmad mengaku sakit hati dan dendam karena ibunya, Mbok Poni yang berprofesi sebagai dukun bayi, pernah dibentak-bentak Risjati saat menangani persalinan. Ketika tahu pelaku adalah tetangga dekat, Budi mengaku geregetan. "Rasanya saya tak percaya. Kok tega-teganya mereka berbuat keji pada istri saya. Wong kalau mereka sakit, istri saya yang ngobati," kata Budi.

Soal Rochmad yang mendendam istrinya, Budi juga sangat menyesalkan. Diakui Budi, istrinya memang pernah menegur ibu Rochmad. "Wajar, kan, istri saya sebagai pembina dukun bayi memberi tahu kalau memang ada kesalahan. Gitu saja sampai membalas dengan cara membunuh,” sesal Budi.

Hingga sekarang, Budi belum bisa menghapus duka yang teramat dalam. "Rasanya, ibu anak-anak masih ada," tuturnya sendu. Namun, Budi berusaha menerima kenyataan pahit ini. "Manusia ini, kan, hanya wayang, sedangkan Tuhan adalah dalangnya. Jadi, apa pun yang dikehendaki Tuhan, saya harus menerima dengan ikhlas." Yang pasti, sampai saat ini ia tak mampu melupakan kenangan manis bersama mendiang istrinya. Budi menilai, istrinya merupakan figur istri yang ideal. “Bukan hanya sabar, tapi dia hebat dalam mengatur rumah tangga, termasuk mendidik anak,” pujinya.

Setelah mengarungi bahtera rumah tangga selama 30 tahun lebih, semua kenangan terasa manis. "Bukan hanya kepada keluarga, pada semua orang istri saya selalu baik. Dia sangat dikenal di kecamatan Balen. Tak pernah, kok, istri saya menentukan ongkos persalinan. Kalau orang tak mampu, dia menerima berapa pun yang diberikan."

SAJIAN SPESIAL
Kekaguman Adi Setyo (26), anak sulung Risjati pada ibu tercinta tak henti-henti diungkapkan. "Ibu benar-benar hebat. Dia tipe ibu yang lembut mendidik anak-anak. tk pernah Ibu memarahi kami bila tak belajar. Tapi dengan pendekatan pada kami, tanpa disuruh pun kami tahu kewajiban," ujar sarjana Teknik Kimia ITS ini. Berkat ibunya pula, lanjut Adi, dua adiknya Setyo Wahyu dan Suci Harini berprestasi bagus di kampus dan sekolahnya. Pertemuan Adi terakhir dengan ibu tercinta terjadi Minggu, tiga hari setelah kejadian. Seperti biasa, pria yang bekerja di sebuah perusahaan susu di Semarang ini pulang ke rumah sebulan sekali. "Tanpa janjian, adik saya yang tinggal di Surabaya juga pulang. Kami pun bisa kumpul bersama," imbuh Adi.
Dalam pertemuan itu, ujar Adi, ia merasa bahagia. Apalagi ibunya menyiapkan masakan spesial berupa ayam goreng untuknya. Sambil menikmati sajian istimewa, "Kami ngobrol-ngobrol. Kebetulan tahun ini saya mau menikah. Nah, rencana perkawinan itu menjadi salah satu topik pembicaraan,” ungkap Adi yang tampak tabah. Begitu tabahnya, Adi tak ingin lagi membahas pelaku dan motivasinya membunuh sang ibu. "Saya terima semuanya. Biarlah Ibu tenang di alam sana. Soal siapa pelaku, biarlah itu menjadi urusan yang berwajib," cetus Adi. Satu lagi kekaguman Adi pada ibunya, "Beliau sangat dicintai dan dipercaya masyarakat. Buktinya, hampir 50 persen kelahiran di kecamatan Balen, ibu yang menangani persalinannya. Ibu memang termasuk bidan senior. Sudah 30 tahun Ibu jadi bidan," papar Adi.

BERDALIH BELA IBU
Ketika memeriksa Tempat Kejadian Perkara (TKP), petugas menemukan celana berlumuran darah yang tertinggal di rumah korban. Polisi pun segera mengubek-ubek pemilik celana itu. Semula kecurigaan mengarah pada Suwidji (25). Pasalnya pemuda itu menghilang setelah kejadian.

"Kami mencurigainya karena dia mantan bromocorah. Selain itu, celana yang tertinggal, ukurannya hampir sama dengan tubuhnya," kata Kaurreskrim Polres Bojonegoro, Iptu Henri Tri Anggoro, mendampingi Kapolres AKBP Coki Manurung. Berbekal data itu, petugas melacak Suwidji ke tempat kerjanya di Tandes, Surabaya. Setelah diinterogasi, "Ternyata dugaan kami tak meleset. Dia mengaku terlibat, tapi eksekutornya adalah Hendra. Ternyata, celana itu milik Hendra. Dia disuruh membunuh oleh Rochmad. Kami pun berhasil menciduk Hendra dan Rochmad di rumahnya," ujar Henri yang menjerat tersangka dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Rochmad (28) mengaku dendam pada korban bukan karena persaingan bisnis seperti isu yang pernah beredar. "Saya hanya membela Ibu. Enam bulan lalu, saya pernah dilapori Ibu. Katanya dia habis dimarahi korban karena salah menangani persalinan. Akibatnya bayi yang ditangani Ibu mati," ujarnya sambil cengengesan. Mendengar laporan ibunya, "Semula saya biasa-biasa. Bahkan saya sempat menasihati Ibu agar kejadian itu tak dimasukkan ke hati," lanjut tukang batu ini.

Anehnya, beberapa bulan kemudian, kata-kata ibunya terngiang kembali. Bahkan, ia mulai mendendam Risjati yang biasa ia sapa Bu Ris. “Enggak tahu ya, pokoknya lama-kelamaan hati saya tak terima dengan perlakuan Bu Ris,” aku Rochmad polos.

PURA-PURA BEROBAT
Tak hanya sakit hati, Rochmad bahkan berniat menghabisi bidan yang kesohor di kecamatan itu. Hanya saja ia tak berani melakukan sendiri. Tiga hari sebelum kejadian, "Saya katakan rencana saya pada Hendra, sahabat saya. Saya minta tolong agar dia bersedia membunuh Bu Ris."
Agar Hendra bersedia memenuhi permintaannya, Rochmad sengaja menjanjikan memberikan imbalan Rp 3 juta. Padahal, lanjut Rochmad, ia jelas tidak mungkin punya uang sebanyak itu. "Penghasilan saya sebagai tukang batu, kan, pas-pasan. Buat makan saja susah."
Rencana Rochmad, setelah eksekusi berhasil, ia baru mengaku tak punya uang. "Hitung-hitung saya utang. Soal kapan membayarnya, tak jadi soal. Toh dia tak mungkin lapor polisi ujarnya sambil melirik Hendra. Ia pun tertawa. Hendra (25) mengaku termakan bujuk rayu Rochmad. Bapak satu anak ini bersedia jadi eksekutor. "Karena saya dijanjikan uang, saya mau saja. Agar rencana tambah mulus, saya mengajak Suwiji. Rencananya, kalau dapat uang dari Rochmad, dia akan saya bagi,"ujarnya sambil menunjuk Wiji yang ada di sebelahnya.

Menyambung cerita Hendra, Wiji (25) mengatakan, "Saya bari diberi tahu tiga jam sebelum kejadian. Waktu dijemput Hendra untuk menemui Rochmad, dia enggak bilang apa-apa," ujarnya tertunduk lesu. Dalam pertemuan itu, mereka berbagi tugas. Rochmad bertugas mengawasi pintu depan rumah Risjati, Wiji mengawasi pintu belakang, dan Hendra sebagai eksekutor. Mereka pun menuju rumah Risjati. Suasana siang itu sepi. Hendra segera masuk ke dalam rumah. Untuk mengelabui Risjati, ia pura-pura akan berobat. “Saya sakit flu dan batuk, Bu,” kata sopir truk ini. Suwidji yang berada di luar nyelonong masuk rumah dan langsung menutup pintu belakang. Ruang belakang Risjati memang perlu diamankan karena dijadikan tempat bersalin. Kebetulan saat itu ada yang baru saja melahirkan. "Saat saya masuk, Bu Ris tidak tahu.

Mereka sudah masuk ruang praktik," kata Wiji. Menurut Hendra, aksi pembunuhan tersebut berlangsung singkat. Setelah memeriksa, Risjati mengambil obat di kotak obat dengan posisi membelakangi Hendra. Saat inilah Hendra beraksi. Ia mengambil pisau di balik bajunya. Sambil memeluk tubuh korban dari belakang, ia menghujamkan belati ke dadanya.

"Bu Ris sempat melawan. Dalam satu pergulatan dia terjengkang. Dia pun saya tusuk lagi," ujar Hendra yang segera meninggalkan tempat itu. Karena celananya berlepotan darah, Hendra masuk ke kamar Budi. "Saya mengambil celana Budi dan memakainya." Celana bernoda darah itu ia selipkan di antara almari di ruang belakang. Hendra merasa aman. Tanpa ia sadari, dari celana bersimbah darah ini polisi berhasil membongkar kasus ini. Sekarang Hendra mengaku menyesal. Padahal, ujarnya, "Selama ini Bu Ris baik pada saya. Ketika istri saya melahirkan, Bu Ris juga yang menolong. Entah kenapa saya bisa mata gelap seperti itu. Ya, saya terbujuk gara-gara uang Rp 3 juta."

Usai kejadian, Rochmad mengaku tenang-tenang saja. Bahkan untuk mengelabui masyarakat, "Saya juga ikut melayat. Malam harinya saya juga ikut pengajian di rumahnya."

http://nostalgia.tabloidnova.com/articles.asp?id=1651
images by http://www.banjarmasinpost.co.id

SEBUAH CERITA TENTANG BIDAN



Hari itu hujan membasahi bumi, berton-ton air tertumpah membasahi tanah yang selalu merindukannya, dedaunan basah, dan akar-akar pohon mulai bekerja menyerap air untuk kelangsungan hidupnya, di puncak bukit disebelah utara tampak dua ekor burung kutilang sedang bersembunyi, berteduh sekaligus bermesaraan disebatang dahan pohon cemara.

Disebuah rumah yang terletak di kaki bukit tersebut, tampak seorang gadis berjilbab, sedang termenung didalam kamarnya, menatap kosong kearah jendela sambil berharap sang mentari akan segera bersinar, menyeruak diantara awan-awan hitam yang kini menghiasi bumi. Dia tau disana di tempat dia bekerja banyak para ibu yang sedang menanti kedatangannya, ya… karena dialah satu-satunya bidan yang berada didesa tempat dia sekarang ditugaskan, Bidan Ana begitulah biasa dia dipanggil.

Ditengah keasikannya memandangi tetesan air yang jatuh dari atap rumahnya, terdengar bunyi ketukan, keras dan cepat. Sedikit terkejut, gadis tersebut segera bangkit dan dengan setengah berlari menuju pintu, tidak menghiraukan kursi yang disenggolnya hingga jatuh, dia segera membuka pintu tersebut. Tampak seorang lelaki muda, tinggi dan berbadan besar, wajahnya pucat pasi memelas,sehingga tampak lebih tua dari usia yang sesungguhnya, dengan nafas tersengal-sengal tampaklah bahwa lelaki tersebut telah berlari secepatnya untuk sampai kerumah ini.

”Eh Pak Eko, ada apa nih pak.. hujan-hujan begini kok lari-lari, ayo masuk dulu pak” kata Bidan Ana.

”Anu bu.. itu.. anu saya, udah mau anu..” bapak tersebut tampak terburu-buru untuk bicara sehingga salah kaprah.

Tersenyum, sang bidan berkata ”tenang dulu pak, jangan terburu-buru gitu.. masa anunya mau anu… hihihi”.

Tersadar, sang bapak pun malu sendiri, lalu berkata ”itu bu, istri saya.. Bu Emil mau melahirkan, sekarang ada di Puskesmas bu.. ayo bu.. cepat bu..”

Sambil berkata ”Tunggu sebentar yah pak” sang bidan yang bertubuh kecil tersebut segera berlari ke kamarnya, mengambil perlengkapan yang sebelumnya sudah dia siapkan dan segera kembali menuju kedepan, untuk selanjutnya bersama sang bapak yang sudah menyiapkan sebuah payung untuk dirinya, bersama-sama pergi ke arah barat ke tempat Puskesmas tersebut.

Ini bukan yg pertama kalinya suami sang pasien menjemput dirinya, pernah suatu malam seorang bapak-bapak yang masih menggunakan sarung dan berbalut kaos dalam, membangunkannya karena ketuban sang istri sudah pecah, dan bapak tersebut lebih memilih Bidan Ana daripada harus meminta tolong kepada Dukun Beranak di desa tersebut. Hal ini lah yg membuat para Bidan di desa tidak disukai oleh para Dukun Beranak, karena secara tidak langsung bidan-bidan tersebut mengambil lahan si dukun.

Ditengah guyuran hujan mereka berdua, Pak Eko dan Bidan Ana, tampak kesulitan berjalan di pematang-pematang sawah, melewati berpetak-petak padi berwarna hijau yang seakan-akan menari-nari kegirangan karena hujan yang turun ini. Para petani tampak sedang berleha-leha, di pondok-pondok kayu ditengah-tengah sawah mereka. Bersiul sambil bernyanyi, karena membayangkan padi mereka akan tumbuh segar, yang berarti rezeki mereka sudah didepan mata.

Setelah melewati sawah-sawah tersebut, tampaklah sebuah bangunan batu berwarna putih yang berdiri megah dikeliling beberapa pohon rambutan, disekitar bangunan tersebut terlihat anak-anak kecil sedang bermain tak-umpet, berlari kesana kemari mencari tempat untuk sembunyi. Didepan bangunan tersebut berdiri papan kayu yang sedikit reot, bertuliskan Pusban ( Puskesmas Bantuan ) Desa Sakarepe (Sak karep e /red.)

Dengan nafas tersengal-sengal karena mengikuti langkah-langkah panjang sang bapak, akhirnya Bidan Ana meletakkan payungnya disudut pintu, tampak olehnya para pasien berdiri didepan loket kecil yg tersedia seadanya, menanti giliran mendapatkan pelayanan. Terus menuju ruangan kecil disebelah kiri pintu yang tadi, dilihatnya dua orang wanita berjilbab.
Yang seorang berkulit putih, berhidung pesek, lebih muda dari dirinya, jika tersenyum maniiiiisssss……. sekali ^^(ga boong loh…..) bernama Aisyah , dia menyapa sang bidan ”Selamat Pagi Mbak Ana”, dan yang seorang lagi berkulit hitam, tahi lalat besar bertengger diatas dagunya, tampak perutnya sudah membesar, karena perempuan tersebut sedang hamil wanita tersebut bernama Dewi, tetapi dikarenakan sedang sibuk dia tdk melihat kedatangan sang bidan.

”Selamat pagi juga, mana Mbak Ria?” jawab sang bidan pendek

”Mbak Rianya belum datang mbak, mungkin masih ngurusin anaknya” jawab Aisyah polos, tetapi tetap dengan senyum manisnya >,<. Sambil terus melangkah menuju ruangan sebelah, sekilas dia melihat seorang gadis bertubuh kecil,bernama Nanda, rekan kerjanya yang sedang menelpon sambil duduk di sebuah kursi didepan ruangan yang tadi, gadis tersebut berambut panjang lurus, terlihat jelas habis rebonding, karena baunya sangat menyengat hidung, gadis tersebut tengah tertawa cekikikan, entah karena lelucon temannya diseberang telpon sana atau dia emang udah ga waras, terlihat tangan kiri gadis tersebut sedang menggaruk-garuk tangan kanannya yg sibuk memegang telpon, ”pasti gara2 kedinginan” begitulah yg ada dipikiran Bidan Ana.

Ketika sampai di ujung ruangan, Bidan Ana terkejut karena hampir bertabrakan dengan seorang pria, pria tersebut bertubuh tinggi, kurus, dengan bulu mata dan alis yang tebal menghiasi wajah tirusnya, tahi lalat tertempel manis diatas bibir pria tersebut. Wajah tampan pria tersebut membuat Bidan Ana tertarik, tetapi dia langsung teringat kekasihnya yang dikota bernama Ijul, yang berjanji akan melamarnya Bulan Haji yang akan datang.

Tetapi sayangnya sudah tiga kali puasa tiga kali lebaran bang Ijul belum pulang-pulang^0^. ”Huh… bikin kaget ajah neh Angga..” kata sang bidan.
”Mau kemana sih?” lanjutnya..
”Eh.. Ana… Ituloh udah janji ketemu ama temen ditoilet” jawab si Angga, yg juga kaget karena hampir bertabrakan.
”Ana mau ikut??” tanyanya.
”BENJOL” hanya sebuah kalimat itulah yang keluar dari bibir tebalnya dan menjadi jawabannya, dan dengan gaya manjanya dia palingkan wajahnya, lalu kembali mengikuti Pak Eko, yg sudah semakin terlihat gelisah.

Di sebuah ruangan yang memang telah dipersiapkan tampak seorang ibu sedang mengerang kesakitan, karena buah hatinya yang telah dibawanya kemana-mana selama 9 bulan sudah tidak sabar untuk keluar menatap indahnya dunia hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Setelah berganti pakaian dengan pakaian dinasnya, Sang Bidan melaksanakan tugasnya, mengucapkan kalimat ”Dorong bu..”, ”Tarik Nafas”, ”Keluarkan”, berulang-ulang tiada henti, dan sang ibu hamil pun menuruti semua kalimatnya, perjuangan hidup mati sang Ibu. Sang Bidan tahu, dia harus melaksanakan tugasnya dengan benar, salah sedikit dua nyawa bisa menghilang, begitu beratnya tugas yang harus di emban oleh bidan kecil ini.

Setiap detik, setiap menit dari setiap hembusan nafas sang ibu menjadi tanggung jawab moral bagi bidan tersebut. Tetapi meskipun bertubuh kecil, sang bidan sudah terbiasa dengan tugasnya, tangannya cekatan, ucapan-ucapannya tegas, membuat sang ibu mempercayakan semuanya kepadanya. Walaupun sang suami, semakin terlihat tidak karuan mendengar teriakan dan erangan istrinya, sang suami mulai berjalan mondar mandir, membuat lingkaran tak beraturan di lorong puskesmas.

Beberapa bapak-bapak lainnya mencoba menenangkannya. Nanda, rekan kerjanya terlihat menutup telinga, ngeri membayangkan sakit sang ibu, sementara itu si Aisyah (masih tetap terlihat manis >,<) mencoba menenangkannya meskipun aisyah sendiri sedikit ketakutan. Dewi, wanita berjilbab yg hamil masih terus sibuk dengan laporan keuangannya, tdk mendengar, bahkan tidak mau mendengar teriakan si ibu, karena beberapa bulan lagi dia lah yg akan berbaring dan berteriak-teriak di tempat tersebut (jangan takut yah wi……).

Sementara itu si Angga yg berada ditoilet, tak mendengar suara apa-apa karena asik dengan kegiatannya saat itu.
”Tenang pak Eko, tenang…. semuanya bakal baik-baik saja” yang berkata adalah seorang bapak, dengan wajah sedikit seram, kumis lebat diatas bibirnya, dan rambut hitam yang telah disemir sebelumnya dirumahnya, tetapi karena kurang rapi, masih terlihat warna putih rambut aslinya (ada yg tahu bapak ini siapa namanya?? ^_^) Didalam ruangan, Bidan Ana tersenyum, karena kepala sang bayi sudah terlihat, dengan semangat yang bertambah, dia beritahukan kepada si Ibu, dan si Ibu tersebut segera meningkatkan dorongannya, menarik lebih panjang nafas, dan membuang lebih banyak udara..

”Oooooeeeee….. Oooooeeeeee…..” suara yg sama terus terulang berkali-kali, dan tampak sesosok tubuh mungil, berlepotan darah dipeluk oleh sang bidan, hujan yg tadinya deras dan membuat berisik, tiba-tiba berhenti seakan-akan bumi ini ingin ikut menikmati suara tangisan makhluk tak berdosa ini, bintang yang biasanya muncul dimalam hari kali ini sekali-dua kali ikut menampakkan diri, sementara itu diujung khatulistiwa tampak 7 warna indah berbentuk setengah lingkaran, biasa disebut Pelangi menghiasi langit.

”Selamat Bu Emil, bayinya laki-laki” begitulah yg dikatakan Bidan Ana.. Keringat mengalir dari jidat nonongnya, seisi desa tampak bersuka cita. Bidan Ana tahu dirinya telah melaksanakan tugasnya, sebuah tugas mulia yang tak kalah beratnya dengan pengorbanan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya.

Tamat.. 

Buat Ana (bagi angga, bidan itu lebih mulia dari seorang dokter sekalipun, karena disaat seorang dokter menyembuhkan pasiennya, dia tak pernah tahu apakah sang pasien adalah orang baik yg berhak hidup ataukah orang berdosa yg sepantasnya mati, tetapi disaat bidan melaksanakan tugasnya, dia membantu ”menghidupkan” makhluk suci yang masih bersih dari dosa) 

Tuhan memberikan kesempatan pertama bagi dirimu dan bidan-bidan lainnya, untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya ”mengirimkan” para penerus kehidupan. 

(Cerita ini hanya fiktif belaka, Kesamaan nama dan tempat memang disengaja)

Sumber 
Helly Anggara. Sebuah cerita tentang bidan ( untuk seorang teman ). Diunduh tgl 29 april 2010; tersedia di http://ekstra.kompasiana.com/group/fiksi/2010/02/24/sebuah-cerita-tentang-bidan-untuk-seorang-teman/

MEMENJARAKAN MANTRI DAN BIDAN DESA


 

Beberapa waktu yang lalu ada seorang mantri desa dipidana 3 bulan hukuman penjara dari PN Tenggarong, Kalimantan Timur. Majelis hakim menyatakan sang mantri terbukti bersalah melanggar UU 36/2009 tentang Kesehatan yaitu tidak punya wewenang memberikan resep obat golongan G yang seharusnya hanya boleh diresepkan oleh dokter.

Hal ini jelas membuat trauma para mantri dan bidan desa. Keterbatasan jumlah dokter di daerah pedalaman dan terkonsentrasinya dokter di perkotaan mengharuskan mantri dan bidan desa berperan sebagai dokter. Banyak tindakan medis yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan secara hukum, namun mesti dilakoni demi menolong pasien.

Keberadaan dan wewenang mantri dan bidan desa yang setara dokter di pelosok pernah saya rasakan manfaatnya. Semasa kecil di desa, ketika sakit, mantrilah yang memberikan pelayan kesehatan. Bahkan saya disunat oleh mantri. Ketika saya bertugas sebagai dokter di salah satu kabupaten terpencil di Aceh dengan hanya 7 orang dokter dalam satu kabupaten, keberadaan dan peranan mantri dan bidan desa begitu terasa. Suatu hal yang mustahil 7 orang dokter umum bisa melayani 150 ribu warga. Tidak ada tenaga kesehatan yang bisa diharapkan kecuali para mantri dan bidan desa.

Ketika ada hukum yang membatasi wewenang mereka, hal ini menjadi dilema. Di satu sisi, tujuan hukum ini adalah untuk melindungi masyarakat dari tindakan medis yang tidak profesional dan bisa merugikan masyarakat. Namun disisi lain-karena jumlah dokter yang terbatas dan belum merata- masyarakat yang memerlukan pelayanan kesehatan hanya bisa dilayani oleh mantri atau bidan desa.

Saya kira hukum ini juga mesti melihat situasi dan kondisi masyarakat. Kalau di kota Jakarta dan sekitarnya, mungkin hukum ini bisa diterapkan. Namun di daerah terpencil, bila hukum ini berlaku, maka akan banyak masyarakat yang tidak bisa mendapat pelayanan medis. Mantri dan bidan desa tidak akan berani melakukan tindakan di luar wewenang profesinya. Mantri hanya bisa merawat pasien dan bidan desa hanya bisa memberikan pelayanan kebidanan dasar saja. Akibatnya masyarakat juga yang dirugikan.

Saya kira ada beberapa hal yang bisa dilakukan terkait dengan masalah ini agar masyarakat bisa memperoleh pelayanan medis yang layak : (1) Penyebaran dokter mesti merata dan depkes mewajibkan kembali PTT kepada semua dokter yang baru lulus. (2) Jumlah dokter di perbanyak (3) Keterampilan dan pengetahuan medis para mantri dan bidan desa terus ditingkatkan.(4)Mantri atau bidan desa yang ‘terpaksa’ berperan sebagai dokter di daerah terpencil harus dibawah supervisi seorang dokter.(5) Hukum yang dimaksud di atas dikecualikan untuk daerah terpencil.

Dalam kerapuhan hati.
Soerabaja, April 2010

Muhammad Jabir. Memenjarakan Mantri dan Bidan Desa. Diunduh tgl 30 april 2010; tersedia di http://kesehatan.kompasiana.com/2010/04/17/memenjarakan-mantri-dan-bidan-desa/

BIDAN MENGABDI TANPA PAMRIH


Pada zaman sekarang, seberapa banyak orang yang masih mempunyai totalitas semangat pengabdian pada masyarakat atau lingkungan sekitarnya, tanpa pamrih dan batas, bahkan rela menyisihkan seluruh waktu, pikiran, biaya bahkan hidupnya demi orang lain? Mereka adalah beberapa orang dengan komitmen pengabdian yang mungkin sudah langka saat ini. 

1. Bidan Ros rosita.
Yang pertama adalah bidan Ros Rosita. Bidan asal Kabupaten Lebak, Banten ini, telah mengabdikan hidupnya selama lebih dari 10 tahun, untuk melayani kesehatan orang-orang suku Baduy. Bidan Ros, panggilan akrab wanita ini, rela melakukan perjalanan hingga 6 jam dengan jalan kaki, demi mengunjungi para pasiennya di pedalaman hutan Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Sejak tahun 1997, Bidan Ros memerlukan waktu 2 tahun agar berbagai metode dan peralatan medis modernnya, seperti obat-obatan, jarum suntik, hingga konsep imunisasi diterima oleh suku Baduy, yang terkenal sangat anti segala hal yang berbau modern.

Namun berkat ketekunan dan semangat pengabdiannya, tradisi itu mampu dipatahkannya dan dia menjadi satu-satunya “dukun modern” yang diterima di kalangan suku Baduy Dalam. Kini, bidan Ros masih setia menjalani pelayananan kesehatan dengan waktu praktik 24 jam non stop dan bayaran seadanya.

“Ya dulu dari awal sih, saya sudah siap dengan rezeki saya dari mereka, seperti untuk melahirkan hanya sepuluh ribu rupiah. Alhamdulillah sekarang sudah naik sedikit menjadi dua puluh ribu rupiah” tutur bidan Ros, yang masih memiliki cita-cita mendirikan rumah bersalin di kawasan Baduy, dengan mantap.

2. Bidan Siti Aminah
Selanjutnya adalah seorang bidan juga, yang juga memiliki panggilan hati untuk bisa melayani kesehatan orang lain tanpa pamrih apapun. Bidan Siti Aminah, mengaku sejak kecil saat ikut pramuka, setiap melihat orang-orang sekitarnya menderita penyakit, berketetapan untuk bisa mengobati mereka.

“ Aku waktu kecil ikut pramuka, lihat orang-orang pada korengan, kudisan, hidung meler, atau luka-luka, selalu merasa trenyuh sendiri. Ya udah, aku janji ke diriku sendiri, nanti kalau sudah dewasa jadi orang yang akan melayani dan mengobati mereka, ndak dibayar juga ndak apa-apa” ungkap Bidan asal Mojokerto Jawa Timur ini. Janji itu digenapi oleh Bidan Aminah, dengan mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat saat kuliah.

Setelah lulus, ikatan dinas ke hampir seluruh penjuru Indonesia, dilakukannya dengan sepenuh hati. Melayani pasien di daerah-daerah kawasan miskin dan terpencil, yang kadang tak mampu membayar, dijalaninya dengan tulus dan senang hati.

“Waktu di daerah, pasien-pasienku kan orang-orang kalangan bawah, jadi ya bayarnya seadanya mereka. Lagi musim durian atau rambutan, ya seluruh rumah pasti bakal penuh dengan durian dan rambutan, atau kalo lagi jalan di pasar, tas pasti bakal penuh dengan sayuran, ikan dan barang-barang jualan lainnya dari mereka. Sampai adikku bercanda, ya udah kalau lewat situ, bawa tas yang buesar aja ” kekeh Bidan Aminah mengenang masa tugasnya di luar Pulau Jawa.

3. Bidan Aminah
Bidan Aminah memilih Cilincing, kecamatan kumuh di kawasan Jakarta Utara dan kampung nelayan di kawasan Bekasi, sebagai tempat pengabdiannya. Berbagai tantangan dan peristiwa yang berkaitan dengan keterbatasan ekonomi pasiennya dan minimnya pelayanan kesehatan dari pemerintah setempat, juga terjadi di sini.

Misal pemeriksaan kesehatan dan pengobatan tanpa bayaran, hingga mengeluarkan biaya dari kantong pribadi demi membayar obat-obatan pasiennya. Bahkan, bidan Aminah rela mengubah mobil pribadinya sebagai mobil ambulans, dan disetirinya sendiri setiap hari demi mengunjungi dan mengangkut pasien-pasiennya.

Kepedulian yang tinggi pada lingkungan sekitarnya, kini bertambah pada pendidikan anak-anak warga miskin. Untuk itu, bidan Aminah telah mendirikan sekolah TK gratis bagi anak-anak di sekitar tempat praktiknya.

4. Gisela Borowka (bukan bidan)
Dia adalah seorang perempuan mantan warga negara Jerman yang memenuhi panggilan hati untuk mengabdi lintas negara. Gisela Borowka, atau lebih dikenal sebagai Mama Barat atau Mama Putih di kawasan Nusa Tenggara Timur, memutuskan untuk menghabiskan hidupnya di negara yang sebelumnya sama sekali asing baginya.

Pengabdiannya di Indonesia dimulai saat usia 29 tahun, pada 26 Agustus 1963, Gisela memilih kawasan Lembata di Flores Timur, yang penuh dengan para penghuni kusta atau lepra. Kawasan penampungan bagi orang-orang yang dikucilkan oleh masyarakat karena penyakitnya itu, menarik minatnya sebagai lahan pengabdian.

Hingga sekitar tahun 1980, Gisela mengabdikan diri dengan tulus mendampingi dan merawat para penderita kusta di Lembata. Bahkan pada 1968, sebuah rumah sakit didirikannya untuk pengobatan menyeluruh para penderita kusta. Setelah berhasil mengurangi jumlah penderita kusta di Lembata secara signifikan, Gisela memilih pulau Alor untuk tempat pengabdian selanjutnya.

Kini 45 tahun berselang, Gisela yang resmi menjadi WNI sejak 20 September 1996 ini, masih terus menjalankan rumah sakit, mengajarkan pola hidup sehat, pendidikan non formal untuk bekal para bekas penderita kusta dan mendirikan panti asuhan bagi anak-anak terlantar dan dari keluarga miskin di pulau Alor. Gisela sudah berketetapan, menjalani sisa hidupnya dengan terus merawat penduduk Alor hingga akhir hidupnya.

Sumber : www.kickandy.com

BIDAN SRIKANDI DARI SIGUNTUR



Jangan pernah meremehkan pos pelayanan terpadu. Dari posyandu inilah ketangguhan bangsa ke depan ditentukan. Husniar, bidan Puskesmas Gunung Medan, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, memberi bukti nyata bahwa dari posyandu watak bangsa bisa dipupuk, didiagnosis, dipantau kesehatannya, dan diobati jika sakit. 

Ia tak hanya mengampanyekan pentingnya kesehatan, tetapi bersama-sama rekan seprofesi dan warga menyiapkan sistem yang berkelanjutan. Programnya melawan hambatan kultural berupa hidupnya mitos-mitos yang negatif di masyarakat.

”Banyak mitos di masyarakat menghambat tercapainya kesehatan masyarakat yang baik. Misalnya, enggak boleh makan ikan, padahal mereka hidup di tepi Sungai Batanghari,” katanya.
Ibu-ibu yang baru melahirkan juga dilarang membawa anaknya keluar rumah sebelum anaknya berusia tiga bulan. ”Akhirnya, imunisasi dasar untuk bayi jadi susah,” ujarnya.

Selain itu, ibu hamil dilarang keluar rumah, anak-anak juga tidak boleh main pada siang hari. ”Mitos-mitos ini membuat kunjungan ibu hamil dan balita ke posyandu menjadi rendah,” jelas Husniar.

Merangkak dari bawah sebagai pembantu bidan, Husniar sejak 1979 sudah mengenal betul problematik kesehatan ibu dan anak di daerahnya. Ia sadar akan perannya ”Di daerah yang terpencil bidan, selain sebagai penyuluh, jadi panutan.”

Bhakti Bidan
Di tengah masyarakat yang pendidikannya rendah, pengetahuan masyarakat soal kesehatan juga lemah. ”Kita bertugas mendampingi daerah binaan atau wilayah kerja,” katanya.
”Saya terlibat dalam program Bhakti Bidan untuk mencapai tujuan pendampingan itu,” kata Husniar. Bhakti Bidan adalah program kerja sama PT Sari Husada dengan Ikatan Bidan Indonesia. Program ini memberikan dana untuk proposal terpilih.

Target utama Husniar meningkatkan kesehatan ibu dan anak yang sekaligus menekan angka kematian ibu dan anak. Programnya tidak muluk-muluk. ”Kami memberi pendampingan dengan langsung berkunjung ke rumah-rumah,” tutur Husniar.

Jadi pendekatan terhadap tokoh masyarakat, tokoh agama, kader desa, kader posyandu, dan kelompok dasawisma pun dilakukan untuk mengikis mitos sedikit demi sedikit. Lewat program puskesmas, kader-kader desa juga dibina.

”Kami juga aktif minta informasi kepada para tokoh dan kader, misalnya kalau ada ibu hamil, ibu melahirkan, dan balita yang perlu perhatian lebih,” katanya. Dengan cara itu, ibu hamil risiko tinggi, anak kurang gizi, dan keluarga tak mampu akan terdeteksi lebih awal.

Program yang selaras dengan Jorong Siaga itu juga menyosialisasikan kartu jaminan kesehatan, baik dari pemerintah pusat maupun daerah, dan juga kartu asuransi kesehatan keluarga miskin.

Jorong Siaga
Husniar menjadi bidan pembina lapangan di Jorong Siguntur, Kecamatan Sitiung, yang memiliki 400 keluarga, sejak 2006. Jorong ini setingkat desa jika di Jawa. ”Pertama kali ke sana saya melihat posyandunya sepi,” katanya.

”Kami harus buka pintu sendiri, membersihkan posyandu sendiri, seolah-olah posyandu punya kami saja,” katanya. Segala upaya dilakukan untuk sosialisasi pentingnya posyandu.
”Sekarang kalau saya pergi ke Posyandu Jorong Siguntur, 100 persen masyarakat sudah mau datang,” katanya.

Husniar juga membantu program bidan desa di sana. Selain punya satu bidan desa, Jorong Siguntur juga punya pusat kesehatan nagari. Tak hanya itu, Jorong Siguntur juga punya empat ambulans desa yang siaga.

Ambulans desa ini bukan seperti ambulans umumnya. ”Ini mobil milik warga yang ditunjuk dan pemiliknya setuju menjadikan mobilnya siap siaga untuk fungsi ambulans,” paparnya.
Tak hanya ambulans, di desa itu juga diperkenalkan tabulin atau tabungan ibu bersalin. Filosofinya sederhana, menyiapkan ibu hamil secara mental dan material agar siap segalanya jika tiba waktunya melahirkan.

”Kalau ada ibu hamil memeriksakan diri, kami minta mulai menabung di kader desa yang ditunjuk. Jadi ketika melahirkan, sudah terkumpul tabungan yang cukup,” kata Husniar.
Jorong Siaga juga mendata calon pendonor darah. ”Jika dibutuhkan, tinggal dijemput,” katanya.
Tiap rumah yang ada ibu hamilnya juga diberi stiker berisi informasi penting. Informasi itu meliputi dengan bidan siapa ibu hamil itu akan melahirkan, siapa yang akan mendampingi nantinya, menggunakan mobil ambulans siapa, siapa yang menanggung dananya, dan siapa donornya jika dibutuhkan.

Dengan pendampingan dari rumah ke rumah, kader-kader desa, mobil ambulans, tabulin, dan donor siaga, praktis segala kemungkinan yang terjadi bisa diantisipasi. Sistem itu terbukti ampuh meningkatkan mutu kesehatan ibu dan anak, sekaligus menekan angka kematian ibu dan anak.

Angka kematian ibu tahun 2007 mencapai 8 orang, tahun 2008 ada 2 orang, dan tahun 2009 nihil. Angka kematian bayi tahun 2007 mencapai 5 bayi, tahun 2008 ada 6 bayi, dan 2009 nihil. Ibu hamil kurang gizi mencapai 5 orang tahun 2007, 2008 sebanyak 6 orang, dan 2009 nihil.
Ibu hamil risiko tinggi tahun 2007 ada 12 orang, tahun 2008 10 orang, dan 2009 turun jadi 2 orang. ”Kunjungan balita ke posyandu meningkat drastis dari 40 persen pada 2007 menjadi 100 persen tahun 2009.”

”Angkanya jadi 100 persen tahun ini karena kalau tak datang ke posyandu, mereka akan kami jemput,” lanjut Husniar, yang masih kuliah di D-4 kebidanan ini.

Jika mendapat kepercayaan, dan modal, ternyata masyarakat madani kita bisa mengonsolidasikan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dari program Bhakti Desa ini, Husniar mendapat penghargaan Terbaik I Srikandi Award 2009 Kategori ”MDGs 5” untuk meningkatkan kesehatan ibu, menyisihkan sekitar 500 proposal dari bidan seluruh Indonesia.

sumber
http://www.dinkes.dharmasrayakab.go.id

REVITA, KISAH SEORANG BIDAN DESA


 


REVITA mungkin tak kenal dengan Srikanti. Memang keduanya hidup di zaman yang berbeda. Kini, Srikanti sudah tiada, sedangkan Revita masih mengabdi. Keduanya amat mencintai profesi dan sama-sama punya dedikasi untuk membantu masyarakat.

Lantas siapa Srikanti dan apa hubungan keduanya? 
Srikanti adalah bidan keluarga Bung Karno yang menolong kelahiran putra-putri presiden pertama RI itu. Separuh hidup Sri dipakai untuk mengabdikan diri kepada keluarga Soekarno.

Beda dengan Revita, 29 tahun. Wanita asal Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar ini sudah pasti bukan Srikanti. Akan tetapi, dia sangat dekat dengan warga desa setempat yang membutuhkan pertolongannya. Seperti amat dekatnya Srikanti dengan keluarga proklamator itu.

Kisah Revita barangkali lebih dramatis lagi. Perjuangannya tidak ringan. Bagaimana tidak, tatkala tsunami menghancurkan desanya yang berada di bibir Selat Malaka, dia sedang hamil tua. Saat itu pula dia wajib menolong warga yang butuh pengobatan.

“Untuk kebutuhan obat saya suruh warga mengutip di toko saya yang sudah hancur berserak,” katanya ditanya Waspada, 98 hari pasca musibah tsunami.

Revita tidak sendiri. Sedikitnya ada enam wanita lain yang berbadan dua. Hanya menunggu waktu bersalin saja. Sementara di sana cuma ada dua bidan. Dia dan satu lagi Noviyanti, adik kandungnya sendiri.

Tanpa pamrih, dia bekerja seadanya. Tak ada klinik, konon lagi tempat praktek yang memadai. Apalagi saat itu, ratusan warga Lamreh yang selamat dari tsunami mengungsi ke atas gunung. Ada empat gunung yang dijadikan lokasi pengungsian, Bukit Soeharto, Gunung Malahayati, Tanoh Mirah dan Ujong Lancang.

Revita dan keluarga mengungsi ke Gunung Malahayati. Malahayati adalah nama seorang wanita janda (Inong Bale) yang menjadi panglima laut pertama di dunia pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.

Nah, tak jauh dari kuburan admiral terkenal itu dia melahirkan akan keduanya. “Jauhnya ratusan meter dari kuburan Malahayati. Di sini kuburan beliau, saya ke naik ke atas lagi. Di situ saya melahirkan,” ceritanya sambil memperagakan pakai tangan.

Kejadiannya, kata dia, tepat 10 hari setelah musibah tsunami menghancurkan Nanggroe Aceh Darussalam. Saat itu, 4 Januari 2005. Sekira pukul 9.30 Wib malam, di bawah sebuah tenda, dia melahirkan adik perempuan buat Askal Fata 4,5 tahun. Anak kedua itu diberi nama Zakira Malahayati.

Setalah Zakira lahir, beberapa hari kemudian Revita harus menolong wanita lain melahirkan. Persalinan itu dia lakukan di bawah tenda yang semuanya berada di atas perbukitan. “Waktu mengeluarkan bayi pun harus pakai lampu teplok,” ujar Revita.

Berapa mendapat bayaran? Mengenai yang satu ini, dia terkadang tak kuasa mengutarakannya. Dia seringkali menolak bayaran dari warga yang tidak mampu. Apalagi ketika musibah itu menerjang, nyaris tak lagi warga ada yang berkantong tebal.

“Saya ikhlaskan saja,” ujarnya lirih.

Keikhlasan itu tak selamanya membuat dia senang. Kadang-kadang, Revita sempat putus asa juga. Apalagi jika mengingat dirinya cuma seorang bidan desa yang berstatus pegawai tidak tetap. “Saya sudah delapan tahun menjadi bidan,” ujar wanita kelahiraan 10 Agustus 1976 ini.

Sewindu memang bukan waktu singkat, terasa amat panjang. Sepanjang harapan Revita yang ingin menjadi pegawai negeri di Dinas Kesehatan setempat. “Sudah delapan kali saya ikut tes, nggak lulus juga,” tuturnya.

Terakhir dia amat sedih, ketika membaca daftar nama-nama mereka yang lulus PNS di sebuah koran akhir bulan lalu. “Sedih sekali, saya sudah lama mengimpikan itu, tapi nggak dapat juga,” ujarnya yang dengan seketika bermata sembab. Bulir bening pun menetes.

Mengingat itu, Revita uring-uringan. Bahkan sempat terlintas dibenaknya untuk berhenti menjadi bidan. Sampai-sampai sang suami, Saufin Har, 31, turun tangan. “Kalau tidak ingin membantu, sebaiknya dari dulu, bukan berhenti sekarang saat warga membutuhkan,” ungkap Ravita menirukan ucapan suaminya.

Ucapan itu kembali melecut semangat Revita. Akhirnya dia cuma bisa tabah dan hanya mengharap pahala dari Allah. Pun demikian, dia amat menyayangkan sikap instansi terkait yang bagaikan tak peduli dengan kesehatan masyarakat.

Selain tak ada bantuan yang diberikan, dokter di puskesmas setempat pun menghilang saat dibutuhkan warga, terutama beberapa hari pasca tsunami. Begitu pula dengan bidan tetap, malah tak menginap di desa tempat tugasnya.

Untuk mengobati warga, selama ini dia mendapat bantuan obat-obatan dari Unicef, termasuk tenda tempat dia merawat banyak pasien. “Semua warga yang butuh bantuan lari ke Kak Ita. Biarpun tengah malam dia mau membantu kami,” ujar Saifullah seorang warga Lamreh kepada Waspada di tempat terpisah.

Begitulah warga menilai sosok Revita. Ternyata balada bidan desa yang tinggal 35 km dari Banda Aceh itu belum berakhir. Sama seperti belum berakhirnya harapan dia untuk menjadi seorang pegawai, konon lagi menjadi seperti Srikanti.

Srikanti pernah menjadi "Bidan Teladan Nasional Tahun 1991". Wanita yang dilahirkan di Majenang Kulon, Kediri 7 Januari 1928 tersebut dikenal sebagai bidan kesayangan Bung Karno. Dia meninggal Selasa 4 Mei 2004 sekira pukul 9.30 Wib dalam usia 76 tahun.

Revita tidak berharap menjadi bidan teladan, apalagi bidan kepresidenan. Anak ketujuh dari delapan bersaudara pasangan Alm Muhammad Ibrahim dan Rohani ini cuma ingin menjadi bidan kesayangan warga Lamreh.

Lalu, wanita sederhana lulusan Bidan C Kesdam Bukit Barisan itu tak punya hasrat yang muluk-muluk dan tak berharap seperti Srikanti. Atau mungkin karena Revita sadar, sebab Srikanti hidup di era Soekarno, sedangkan dirinya di masa tsunami. Benarkah, Entahlah! [Munawardi Ismail]

http://mounawardismail.blogspot.com/2005/04/revita-kisah-seorang-bidan-desa.html

BIDAN PEJALAN KAKI KAMPUNG-KAMPUNG TERPENCIL PAPUA


Postur tubuhnya sedang saja dan langsing. Sopan dan murah senyum adalah kesan yang akan didapati bila bertemu dengan ibu yang satu ini. Dialah Octovina Reba (Bonay), anak dari pasangan Hofni Reba (almarhum) dan Paulina Arobaya.

Berjalan kaki dari kampung ke kampung. Memanggul atau menjinjing obat dan peralatan kesehatan; mandi hujan, melintasi lumpur, kena duri, digigit lintah dan nyamuk. “Itu bukan hambatan, karena saya tahu itu talenta yang Tuhan berikan kepada saya untuk melayani masyarakat di sana,” papar Ibu Bonay.

Karena banyaknya perkerjaan dan kegiatan, ibu dari Grace Malanesia Putri Bonay ini juga jarang bersama kedua anaknya. Kadang kala ia pergi saat kedua buah hatinya itu masih tertidur dan pulang pun saat mereka sudah pulas. Beruntung mereka memahami pekerjaan kedua orangtua.

Persoalan jarak, waktu dan kesulitan medan tak ia pandang sebagai alasan untuk mengelak dari tanggung jawab terhadap kesehatan warga di kampung-kampung yang jauh. Ia menganggap pekerjaaannya sebagai seni. Karena, katanya, kampung-kampung merupakan tolok ukur pelayanan, ke sanalah orang harus berkiprah langsung. Bukan di kota, kabupaten atau provinsi.
Kecintaan untuk melayani masyarakat tetap melekat pada ibu dua anak ini. Pelayanan kesehatan terus dilakukan dari kampung ke kampung di Distrik Arso Timur. Untuk tugas itu, ia rela berjalan kaki ke kampung-kampung kecil yang belum bisa dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Kadang kala ia dan suami pulang malam hari; berjalan di tengah hutan belantara menggunakan senter.

Sebab, begitulah kenyataan umum di Papua yang akan dihadapi oleh siapa pun yang memilih pekerjaan atau profesi seperti dirinya. Beruntunglah ia punya suami yang sama-sama suka dan terbiasa dengan pekerjaan yang menantang. Bukan sesuatu yang luar biasa, jika keduanya saling mendukung pekerjaan masing-masing.

Melayani Sebagai Pengabdian Kepada Masyarakat
Sebagai “abdi masyarakat”, ketika sang suami berjalan kaki untuk menyampaikan progam pemerintah, atau sekadar mengunjungi warga di kampung-kampung, sang isteri mendampingi untuk memeriksa kesehatan dan melakukan pengobatan.

Begitu pula sebaliknya, jika isteri yang punya jadwal pengobatan di kampung-kampung tertentu, suami mengiringi untuk bertatap muka dengan warga seraya mendengarkan langsung kebutuhan mereka.

Selain sebagai perawat, Ibu Bonay juga menjabat sebagai ketua PKK Distrik Arso Timur. Lantaran, perjalanan ‘turkam’ yang sering dilakukan bersama sang suami atau dengan tim kesehatan, ia sangat akrab dengan persoalan utama yang dihadapi warga di kampung-kampung di Distrik Arso Timur. Ia menilai buruknya kondisi kesehatan dan pendidikan di kampung-kampung disebabkan masih minimnya perhatian pemerintah.

“Mereka tidak diberdayakan, selama ini mereka tidak banyak tersentuh pembangunan. Di sana, kesehatan ibu hamil sangat memprihatinkan,” kata ibu dari Alan Hofni Putra Bonay ini.
Apalagi, katanya, Distrik Arso Timur merupakan distrik pemekaran yang baru berumur 10 bulan yang sudah pasti sangat tertinggal. Distrik yang banyak membutuhkan perhatian dari Pemda Keerom.

Dari 11 kampung di Arso Timur, tujuh kampung adalah kampung pemekaran baru. Sementara empat lainnya merupakan kampung-kampung yang sudah lama dibuka saat Distrik Arso dimekarkan. Ketujuh kampung itulah yang lebih difokuskan perhatian pelayanan kesehatan.
Ibu Bonay lahir dan besar di Kampung Dawai pada 15 April 1973. Ia masuk Sekolah Dasar Inpres Dawai. Tamat pada 1986. Lalu melanjutkan ke SMP Negeri 2 Serui. Selesai 1989. Bercita-cita menjadi perawat, ia memilih masuk di Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) Jayapura. Lulus pada 1992.

Ia melanjutkan lagi pendidikan ke Diploma 3 Kebidanan selama setahun. Tamat pada 1993. Ia langsung bertugas sebagai bidan di Kampung Waren (Serui). Lalu ia pindah ke salah satu puskesmas di Serui kota dan bertugas di sana hingga 1996. Kemudian ia pindah lagi, kini ke Arso mengikuti sang suami, Nathan Bonay yang ketika itu ditugaskan di sana. Nathan kini kepala distrik Arso Timur.

Di Arso, Octovina bertugas di Puskesmas Distrik Arso (kini Distrik Skanto) yang saat itu masih dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Jayapura. Dengan pengetahuan medis yang diperolehnya, ia berupaya melayani masyarakat di sini dengan baik.

Ketika Arso dimekarkan menjadi kabupaten terpisah dari Kabupaten Jayapura, sang suami ditarik dan ditempatkan di BPMD. Selanjutnya, ditetapkan sebagai kepala Distrik Arso Timur hingga kini. Karena mengikuti suami, Octovina pun pindah ke Distrik Arso Timur.

Membimbing Mereka yang ‘Gelap Kesehatan’
Ibu yang menggemari olah raga voli ini mengatakan, taraf pendidikan kaum perempuan di tujuh kampung memang masih sangat rendah. Warga di sini belum memahami pentingnya kesehatan dan bagaimana hidup sehat. Ibu hamil dan balita banyak kekurangan gizi. Rendahnya pendidikan, sebagiannya, dipengaruhi kondisi politik dulu yang menyebabkan mereka kehilangan kesempatan menempuh pendidikan.

“Perempuan dan anak-anak merupakan pilar pembangunan. Kualitas hidup mereka menentukan kualitas bangsa. Ini yang harus kita perjuangkan,” katanya.

Untuk memperbaiki kondisi kesehatan, terutama ibu dan anak, di Arso Timur perlu pendirian pos pelayanan terpadu (posyandu); sarana pelayanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat kampung. Jika upaya itu sudah dipenuhi, langkah selanjutnya adalah melatih para ibu rumah tangga yang minim pengetahuan kesehatannya sebagai kader posyandu. Mereka ini yang akan menjalankan posyandu.

Walau di atas kertas PKK di Arso Timur sudah ada, program-programnya belum jalan. Dana pemberdayaan kampung sampai saat ini belum dikucurkan- bagian untuk PKK sebesar 10 persen. Padahal, dana ini, menurut Octovina memungkinkan peningkatan pelayanan kesehatan ibu di Distrik Arso Timur.

(Yosias Wambrauw/suaraperempuan.papua.wordpress.com/23okt2008)
http://www.langitperempuan.com/2010/02

BIDAN SUKSES MASUK PARLEMEN



Lewat bendera Partai Demokrat, Eti Sumiati berjibaku menyusuri setiap sudut kampung dan desa di tujuh kecamatan dapil III Kabupaten Bogor. Tak ada yang meragukan jaringan sosial ibu satu orang anak ini. Ya, sebagai bidan dan banyak berkiprah diberbagai organisasi, Eti Sunarti berhasil ditasbihkan menjadi caleg perempuan dengan raihan suara terbanyak mencapai 13.870 suara. Bagaimana kiprah Eti sebelum menjadi caleg?

TAK sulit mencari Eti. Ia selalu menghabiskan waktunya di rumah sakit bersalin di jalan raya Sukabumi Bogor yang telah ia bina selama 17 tahun.

Mobil Neo Baleno bernopol F 1513 GP sisa perjuangannya semasa kampanye masih terlihat mulus terpajang di pinggir jalan RS Amanda.

Saat ditemui Radarbogor usai menggelar jam praktek di rumah sakit bersalin miliknya itu, Eti mengaku tengah keranjingan melayani setiap pasiennya yang datang hampir tiap jam.
Padahal kini Eti harus mempersiapkan diri, menghadapi pelantikannya sebagai anggota DPRD Kabupaten Bogor.

Namun entah mengapa raut wajah bidan cantik ini tak secerah biasanya. Hari-hari Eti Sunarti saat ini tengah diliputi kegalauan. Ia tengah dilema untuk memilih jalannya kedepan. Dalam sehari, Eti menghabiskan empat sampai enam jam melayani pasien di rumah sakitnya. Namun ia sedih jika harus membatasi kegiatannya itu kelak.

”Saya masih ingin membuka praktek. Ini salah satu ungkapan terimakasih saya kepada masyarakat yang telah memilih saya,” tutur Ketua Ikatan Bidan Indonesia(IBI) RT Ciawi itu.
Eti lahir dan besar di Caringin 10 November 43 tahun lalu. Ia lahir ditengah keluarga yang berkecukupan. Urusan akademis, Enam tahun Eti belajar pendidikan dasar di SDN Pasirmuncang. Ia melanjutkan tiga tahun di SLTPN Cigombong. Selepas itu, Eti mengeyam pendidikan di Sekolah Perawat Kesehatan(SPK) Jakarta. Setelah mendapatkan ilmu dasar kebidanan, Eti pun melengkapi gelarnya di Akademi Kebidanan Tasik. Tak puas disitu, Ia pun melanjutkan pendidikannya dan mendapatkan gelar Sarjana Hukum Kesehatan di Universitas Djuanda.

Untuk dunia politik, Eti sudah merajutnya sejak remaja. Eti memang senang dengan dunia politik lewat pantauannya di berbagai pemberitaan media. Bahkan dalam pemilihan gubernur 2008 lalu, Eti menjadi salah satu anggota Panwascam Caringin.
Disaat yang bersamaan, ia ditawari masuk untuk berpolitik praktis di partai yang didirikan SBY. Ia tak lama berfikir, untuk mengiyakan tawaran tersebut.

Selepas dipastikan menjadi caleg tetap, ia langsung membuka kembali buku register pasiennya untuk datang dan memohon dukungan.

Bukan hanya pasien, ia pun menggedor-gedor organisasi yang ia geluti. Tak mudah bagi Eti meyakinkan kerabat dan teman dekatnya atas pencalonannya itu. Namun, Eti akhirnya berhasil melalui masa sulitnya

http://www.radar-bogor.co.id/?ar_id=MzA3ODQ=&click=Mw==

SEORANG BIDAN YANG BERJUANG MENEMBUS ADAT BADUY


 


Penolakan suku Badui Dalam terhadap metode pengobatan modern kini mulai terkikis. Berkat kegigihan Bidan Eros Rosita, mereka mengenal jarum suntik dan bahkan mulai intens berobat.

Kabut merayap pelan di sebagian punggung Pegunungan Kendeng pada pagi, Tepat pukul 06.15 seorang wanita muda berbaju hitam berjalan pelan menaiki tangga buatan di sebuah jalan setapak yang melintasi perbatasan kampung suku Badui Luar di Kampung Kadu Ketug. Dia menuju Desa Ciboleger, sebuah desa di luar kawasan Badui.

Sambil menutupi sebagian wajahnya, ibu muda bernama Lis, 20, itu tampak kedinginan. Pagi itu perempuan Badui tersebut sudah berjanji untuk berobat di tempat praktik Bidan Eros Rosita di Desa Ciboleger. Dia adalah satu-satunya tenaga medis yang telah mendapatkan “lisensi” dari para tetua adat suku Badui Luar dan Badui Dalam untuk mengobati warga Badui secara langsung.

”Dulu tidak begini. Pasien sangat minim karena takut berobat. Mereka lebih percaya kepada dukun,’’ ujar Rosita setelah menangani sejumlah pasien.

Pada jam-jam tertentu sebelum atau setelah bertugas di Puskesmas Ciboleger, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, wanita 38 tahun itu membuka praktik di kediamannya. Ruang praktik berukuran 3 x 4 meter itu sangat sederhana. Dindingnya dipenuhi poster cara hidup sehat dan gambar ilustrasi cuci tangan. Juga ada foto ibu hamil dan janin. Dua buah stetoskop tergantung di salah satu sudut ruang. Di meja praktik ada beberapa mainan anak-anak. ‘’Maaf, maklum anak saya masih kecil, jadi suka bikin kacau di rumah,’’ canda Rosita sambil merapikan tempat praktiknya.

Rosita mulai membuka lembaran kisah hidupnya. Dia menjelaskan bahwa suku Badui adalah kelompok masyarakat yang menerapkan hidup bersahaja dan bertahan bersama tradisi nenek moyang mereka. Sudah ratusan tahun mereka hidup mengasingkan diri dari modernitas dan hidup selaras dengan keaslian alam. Jauh dari hingar-bingar modernitas, termasuk di bidang kesehatan sekalipun. Bahkan, sejak era kemerdekaan, berkali-kali sudah tenaga medis didatangkan dari ibu kota dan silih berganti pula mereka kembali dengan tangan kosong karena ditolak warga suku Badui. ‘’Kondisi itu yang justru memotivasi saya untuk bisa bekerja sesuai dengan keterampilan saya di sini,’’ kata wanita berjilbab tersebut.

Dengan misi itu, ketika menjadi pegawai tidak tetap (PTT) kesehatan, Rosita memilih ditugaskan ke Desa Kanekes, desa yang menaungi 59 kampung Badui, dalam dan luar.
Bidan Ros -begitu dia akrab dipanggil- menuturkan, sebelum dirinya berhasil membuka akses pengobatan di pedalaman, suku Badui menggunakan jasa paraji alias dukun beranak untuk proses kelahiran. Kedatangan sejumlah tenaga medis kerap dianggap sebagai pelanggaran terhadap tradisi leluhur yang membatasi diri dari sentuhan dengan dunia modern. Namun, kebiasaan itu yang membuat derajat kesehatan suku Badui, terutama kaum ibu dan anak-anak, stagnan dan cenderung menurun. Menyadarkan pentingnya kesehatan kepada suku Badui bukan tugas mudah. ‘’Saya mulai bertugas di posyandu pada 1997. Dari rumah, saya harus menyiapkan imunisasi, bubur kacang. Saya ketuk dari pintu ke pintu di satu kampung. Demikian yang saya lakukan berulang-ulang,’’ kata ibu dua anak itu.

Awalnya, Rosita kerap ditolak atau kehadirannya tidak dihiraukan. Perlakuan seperti itu jelas membuat mental tenaga medis biasa jatuh. Sebab, mencapai lokasi-lokasi perkampungan Badui membutuhkan tenaga ekstra. Tenaga medis paling tidak harus berjalan kaki selama satu hingga enam jam di jalan setapak menembus hutan dan menyeberangi sungai. Jarak untuk sampai di titik-titik perkampungan Badui Dalam yang paling jauh mencapai 15-20 kilometer dengan medan menanjak dan menurun.

‘’Tak terhitung puluhan kali saya tiap malam harus menangis dan merasa kecewa dengan perlakuan itu. Tapi, di pagi harinya, setelah salat subuh, saya selalu berdoa dan kembali menemukan semangat lagi,’’ kenang istri Asep Kurnia itu.

Momen keberhasilan Bidan Ros terjadi ketika ada wabah prambusia atau penyakit merah, salah satu penyakit kulit yang menular pada 1999-2000. Ketika itu, dia memberanikan diri datang ke Badui Dalam dan menawarkan diri untuk mengobati penyakit itu dengan suntikan penisilin dan obat kulit. ‘’Awalnya mereka menolak karena tubuh mereka harus dimasuki alat modern yakni jarum suntik,’’ kenangnya. Tapi, karena dalam keadaan terjepit, setelah mendapat persetujuan pimpinan adat, mereka pun menyediakan satu orang warga yang terkena prambusia untuk dijadikan “percobaan”.

Penyuntikan dan pengobatan pun dilakukan di hadapan puluhan pasang mata termasuk salah satu dukun lokal. Setelah melakukan beberapa kali pengobatan dan puluhan kilometer berjalan kaki bolak-balik dari pedalaman ke perkampungan, akhirnya pasien itu pun sembuh. Sejak saat itu, dari mulut ke mulut nama Bidan Ros mulai dikenal. Karena komunitas mereka yang terbatas, informasi pun cepat sekali menyebar sampai ke 59 kampung di Badui. ‘’Dalam hal Prambusia, dukun Badui telah takluk sama tenaga medis,’’ candanya.

Menurut Bidan Ros, orang Badui umumnya jarang mengalami sakit berat seperti hipertensi, jantung koroner, ginjal, atau gula. Karena itu, tidak heran bila ada orang Badui yang usianya sampai lebih dari 100 tahun. ‘’Lebih banyak yang berobat ke saya karena penyakit-penyakit ringan seperti penyakit kulit, batuk, atau pilek,’’

Sampai di situ, mimpi Bidan Ros masih belum tuntas. Dia masih belum dipercaya membantu persalinan. Warga Badui, kata dia, memiliki mitos bahwa jika plasenta alias ari-ari bayi dipotong ketika proses persalinan, sang bayi akan mati. Selain itu, mereka juga berpersepsi bahwa melahirkan dengan dibantu bidan akan membutuhkan biaya mahal. Untuk mengatasinya, Bidan Ros mempraktikkan kelahiran bayi di depan para ibu Badui. ‘’Saya tunjukkan secara medis. Bahkan, ketika saya potong plasenta bayi, ada yang protes dan menghalangi. Tapi, setelah terbukti bahwa bayi tidak mati, mereka terheran-heran,’’ ujar dia dengan mata berkaca-kaca.
Setelah berhasil membantu persalinan itu, dia pun menamai anak pertama yang membuka sukses “pertunjukan” medis kepada warga pedalaman itu dengan nama suaminya. Dia mengaku kerap terharu jika mengenang masa-masa itu. ‘’Apalagi kalau sekarang ketemu dengan anak itu, saya selalu ingat kisah perjuangan saya,’’.

Namun, hingga kini, dia belum berhasil menangani persalinan warga Badui Dalam. Bukan karena warga tidak mau, tapi terutama karena medan yang berat. Ketika dia masih di perjalanan, sang ibu keburu melahirkan. Pernah suatu saat, ketika dia baru berjalan tiga jam (dari enam jam yang dibutuhkan), jabang bayi yang akan ditolong sudah keluar.

Dalam menjalankan profesinya, Rosita bekerja dengan ikhlas, tanpa pamrih. Betapa tidak, untuk sekali persalinan, dia rela walau hanya dibayar Rp20 ribu. Bahkan, jika ada yang mengaku tidak mampu, dia siap tidak dibayar. ‘’Saya masih tetap ingat pesan orangtua, yakni ketika bertugas di mana pun harus tulus dan ikhlas. Insya Allah, rezeki tidak akan ke mana,’’ ungkapnya.

sumber http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=80359